Seni Mengedit

  • 0

Seni Mengedit

Menulis adalah keterampilan, bukan sains. Akan ada hari dimana semua yang kita tulis berakhir di tempat sampah, baik itu secara harfiah atau recycle bin di komputer. Akan (selalu) ada hari seorang penulis harus menyusun ulang setiap kata dan frase. Pada hari-hari lainnya, setiap kata yang ditulis atau diketik seakan karya besar yang tidak terlupakan.

Berkhayal selalu membantu seorang penulis untuk optimis. Semua tulisan terbaik harus melalui proses penyuntingan. Rahasia sukses bagi banyak penulis adalah revisi. Ini kegiatan yang melelahkan karena perlu menyunting sangat teliti, dan kadang perubahan total.

Kebanyakan draft pertama adalah sampah. Itulah sebabnya para penyunting menyebutnya sebagai “draft kasar.” Tugas penyunting adalah memoles dan “menyemir” draft kasar tadi berulang-ulang, sampai halus dan bersinar. Sinar dari karya tadi yang akan menarik pembaca untuk membaca dan membelinya.

Seorang penulis biasanya menulis ratusan ribu atau mungkin jutaan kata yang harus dibuang. Kemudian menulis ribuan kata lagi yang harus disunting dan ditulis ulang. Akan ada rasa marah, kecewa, dan lelah yang harus dilalui dengan cepat karena penulis berpacu dengan tenggat dan emosi yang sedang meninggi. Seorang penulis profesional biasanya terlatih menghadapi kritik dan penyuntingan. Penulis punya hak untuk protes dan bersikeras pada pendapatnya. Semua akan berakhir dengan kompromi.

Seorang penulis tidak pernah berhenti karena proses penyuntingan dan hal ini yang membedakan mereka dari “penulis” yang tidak pernah menyelesaikan apapun. Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk menulis dengan buruk, kemudian paksa diri untuk menyunting. Ya, kerja keras dan akan mengaduk emosi kembali, tapi dengan cara ini seorang penulis dapat menghasilkan draf akhir yang menonjol.

“You can always edit a bad page. You can’t edit a blank page.”

Sumber gambar: Sayquotable.com


Leave a Reply