Kemampuan Reflektif dalam Mengelola Usaha

Kemampuan Reflektif dalam Mengelola Usaha

Sebagian besar dari kita cenderung memaknai sesuatu dari apa yang sudah kita ketahui dari orang di sekeliling. Pengetahuan dan pemaknaan yang diwariskan tersebut seringkali bias dan bisa jadi berpengaruh negatif terhadap kemampuan untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang lebih luas. Di masa awal kanak-kanak, individu mulai mengembangkan narasi internal tentang bagaimana dunia bekerja dan apa yang dianggap benar. Seiring waktu, tanpa disadari, individu tersebut  percaya bahwa cerita tersebut merupakan fakta. Bias seperti ini membuat seseorang merasa lebih aman tetapi menghalangi usaha menangkap berbagai kemungkinan dan peluang.

Menjadi diri yang reflektif merupakan salah satu upaya untuk dapat membuka perspektif lebih luas. Untuk melakukan hal ini perlu kerendahan hati untuk belajar mengelola emosi negatif seperti kemarahan dan ketakutan. Kedua emosi ini dapat memicu emosi lain yang berdampak buruk pada cara kita mencerna suatu peristiwa dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.

Lalu apa hubungannya menjadi reflektif dengan mengelola bisnis kecil, contohnya jasa transkrip wawancara? Kebanyakan orang lebih suka untuk membaca artikel berjudul “tips sukses melakukan ABC” atau “kiat cepat melakukan transkrip wawancara”. Namun mengelola kondisi yang kompleks memerlukan lebih dari tips sederhana atau kiat instan menyelesaikan masalah. Menjadi reflektif memerlukan keberanian dan kesediaan meluangkan waktu untuk duduk dalam situasi yang tidak nyaman dan tidak pasti. Dalam mengelola sistem yang kompleks, tidak ada satu resep untuk semua, yang ada hanya kepekaan.

Sumber gambar: http://www.brilliant-insane.com


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.