Berdagang atau Berbisnis, Apa Bedanya?

Berdagang atau Berbisnis, Apa Bedanya?

Tanggal 25 Juli 2018 kemarin TranscriptDOC mengikuti seminar yang diadakan oleh perusahaan software akuntansi Jurnal.id bekerjasama dengan BCA corporate. Salah satu materi yang disampaikan oleh narasumber dari Rasyidi Financial Consulting sangat menarik dan ingin dibagikan melalui tulisan ini.

Tema yang disampaikan Rasyidi FinCon adalah tentang otomatisasi akuntansi untuk efisiensi. Banyak hal yang dibahas merupakan pemikiran TranscriptDOC sejak lama. Salah satunya tentang alasan melakukan pembukuan dan sistem pelaporan keuangan berkala. Rupanya di sini perbedaan antara berdagang dan berbisnis. Siapapun bisa berdagang, apapun bisa didagangkan. Namun berdagang bukan berarti orang tersebut pengusaha atau melakukan bisnis karena perbedaan ada pada sistem baik itu sistem mengelola sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. Berbisnis di sini lebih cocok jika diterjemahkan sebagai entrepreneur.

Ada 4 jenis pengelolaan yang dilakukan pelaku usaha. Pertama adalah mereka yang tidak melakukan pencatatan apapun karena apa yang didapat dan apa yang keluar langsung digunakan untuk biaya keseharian. Jika pelaku usaha menggunakan rekening bank, minimal ada pencatatan di bank tentang dana masuk dan dana keluar tetapi informasinya tidak detail dan tersistematisasi. Kedua adalah sudah melakukan pencatatan di buku kas. Namun di buku kas hanya disusun pengeluaran dan pendapatan. Seringkali jika ada uang masuk, tanpa melihat jenis sumbernya, langsung dicatat di pemasukan. Padahal jika uang itu pinjaman maka tidak bisa diperlakukan sesederhana itu. Buku kas tidak dapat diandalkan sebagai laporan keuangan apalagi sebagai bahan untuk membuat keputusan usaha karena data belum diolah, tidak akurat, dan tidak merefleksikan kondisi sebenarnya dari sebuah usaha.

Tipe ketiga adalah pelaku usaha yang sudah melakukan catatan keuangan tapi secara manual, dalam dokumen terpisah (atau beberapa worksheet terpisah), dan tidak mampu membaca atau menginterpretasi laporan yang tersaji. Tipe keempat adalah mereka yang sudah melakukan pencatatan keuangan menggunakan sistem terotomasi yang dapat diakses dari berbagai tempat dan berada dalam satu sistem aplikasi.

TranscriptDOC sebagai penyedia jasa transkrip wawancara, penerjemahan, dan notulasi sudah menjalani proses di atas. Awalnya mencatat sederhana uang masuk dan keluar kemudian berkembang dengan catatan keuangan manual dan saat ini semi otomasi menggunakan Jurnal.id. Awalnya ada keraguan karena untuk proses pencatatan ini TranscriptDOC harus mengeluarkan dana cukup besar bagi usaha kecil. Namun, efisiensi bukan berarti tanpa biaya. Justru jika dengan penambahan biaya tersebut, TranscriptDOC dapat beroperasi secara efisien dan tersistem dengan baik maka itu menjadi salah satu wujud dari profesionalitas perusahaan.

Pada awal berusaha, seseorang dapat mengandalkan intuisi tetapi pada proses pengembangannya harus mengandalkan data sehingga tepat dengan kondisi di dalam dan di pasar. Dalam artikel di Jurnal.id tertulis bahwa ada 4 jenis laporan yang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan (https://www.jurnal.id/id/blog/2017/4-jenis-laporan-keuangan-yang-penting-untuk-bisnis-anda) yaitu laporan laba rugi, perubahan modal, neraca dan arus kas. Neraca berfungsi untuk mengetahui status kesehatan keuangan dan ukuran usaha sementara laba rugi menunjukkan kinerja perusahaan.

Informasi dalam kegiatan ini bermanfaat untuk memberi pemahaman tentang manfaat dan fitur aplikasi keuangan yang dapat membantu proses pengembangan usaha.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.