Category Archives: Article

Menyentuh Hati melalui Tulisan

Menjadi seorang penulis profesional bukan pekerjaan mudah. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai perjalanan yang melelahkan, penuh konflik, dan kadang menemui beberapa hambatan yang dapat menggoyahkan impian menjadi penulis. Kadang lebih mudah untuk mengabaikan impian itu dan sekadar menulis untuk iseng, tanpa keinginan untuk menerbitkan tulisan, sehingga beberapa orang menyebutnya “pipe dream”, sebuah ceruk sempit yang hanya dilalui mereka dengan tekad kuat menjadi seorang penulis.

Tidak ada yang tidak mungkin. Peribahasa ini sudah dibuktikan oleh banyak orang yang berhasil menjadi penulis baik melalui penerbitan indie atau arus utama. Keberhasilan mereka harusnya menjadi pemicu bagi penulis lainya yang masih berjuang.

Apa resep kesuksesan penulis? Menurut beberapa penulis, intinya adalah menghasilkan suatu karya yang dapat menyentuh hati dan pikiran khalayak. Apapun genrenya, jika karya tersebut menyentuh dan menggugah emosi khalayak maka mereka akan merasa karya tersebut berharga untuk dibaca dan dibeli.

Seringkali yang diperlukan adalah sedikit motivasi yang dapat mendorong penulis di kala terjebak dalam “writer’s block” atau situasi sulit lainnya. Jadi, jika kamu juga sedang berjuang untuk mendapatkan pencerahan di tengah penulisan yang mandek, berhenti sejenak beberapa saat –bukan beberapa hari– untuk menulis secara spontan dan mengisi energi untuk melanjutkan proses menulis.

Semoga cara ini berhasil menuntunmu untuk terus menulis.

Sumber gambar: http://blog.wsd.net/mainglefield/the-writing-process/


Tips Menulis – Hindari Pengulangan

Kata atau frasa yang muncul berulang dalam suatu tulisan dapat memicu “gema” di benak pembaca. “Gema” yang dimaksud adalah perasaan bawah sadar yang mengatakan, “Bukankah saya baru saja membacanya?”. Hal tersebut dapat menarik perhatian pembaca, baik secara positif maupun negatif, terhadap pesan yang ingin disampaikan penulis. Sangat sulit bagi seorang penulis untuk memilih kata-kata dan frasa yang perlu diulang dalam karya mereka sendiri untuk menekankan suatu pesan. Pengulangan yang dilakukan secara serampangan akan menimbulkan efek negatif terhadap suatu tulisan.

Jika suatu kata atau ungkapan yang digunakan berulang bukan kosakata yang umum, maka semakin besar kemungkinan untuk “menggema” di benak pembaca. Jika penulis menggunakan ungkapan tertentu, bahkan di halaman terpisah, maka hal tersebut dapat memicu “gema” di benak pembaca. Seorang editor yang baik akan menyoroti kata-kata dan ungkapan berulang yang ditemukan dalam suatu tulisan sehingga penulis dapat menggantinya dengan ungkapan yang berbeda.

Sumber gambar: www.linkedin.com


Sekilas tentang Transkrip Terperinci

Di artikel sebelumnya telah dibahas tentang transkrip sederhana. Kali ini akan dibahas tentang transkrip terperinci dengan aturan yang lebih kompleks. Transkripsi jenis ini diperlukan jika analisis yang akan dilakukan terfokus tidak saja pada isi percakapan tetapi juga pada semantik. Dalam kasus tersebut, elemen seperti intonasi, volume suara  dan kecepatan  dan pitch suara disertakan dalam transkrip.

Seperti telah diketahui, transkrip sederhana memungkinkan peneliti untuk memahami isi percakapan dengan cepat. Detail mengenai intonasi dihilangkan sehingga transkrip mudah dibaca. Sementara di transkrip terperinci, pembaca mendapatkan informasi lebih baik tentang kesan para pembicara karena mencakup intonasi dan logat. Peneliti dapat menganalisis dan mengambil kesimpulan dengan lebih tepat ketika narasumber terdengar antusias karena dia berulang kali menekankan suatu suku kata.

Peneliti harus memutuskan bagaimana cara menuliskan ekspresi komunikasi dan informasi yang dia perlukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab peneliti misalnya, informasi apa yang harus dimasukkan di dalam transkrip?
Apakah penting untuk memasukkan penekanan?
Apakah vernakular atau dialek harus diwakili dalam transkrip?
Sebuah aturan transkripsi yang jelas akan membantu penyusunan transkrip yang dapat dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Sekali lagi, perlu ditekankan bahwa tujuan dari transkripsi adalah menuliskan ucapan secara rinci untuk memberikan pemahaman yang baik dari percakapan bagi pembaca. Hal ini dilakukan, misalnya, dengan memasukkan jeda, intonasi, atau pembicaraan tumpang tindih di transkrip. Namun terlalu banyak detail juga dapat mempersulit orang untuk memahami transkrip.


  • 0

Sekilas tentang Transkrip Sederhana

Siapapun yang mentranskripsi atau yang bekerja dengan transkrip perlu menyadari bahwa suatu transkrip tidak pernah bisa sepenuhnya merekam situasi dalam bentuk tertulis. Hal ini karena terlalu banyak elemen yang terjadi dalam proses komunikasi. Tidak mungkin untuk menuliskan semuanya. Bahkan transkrip yang memiliki kode pancatatan rinci yang menuliskan berbagai suara yang terdengar bukan berarti sangat akurat. Suatu transkrip dapat menghilangkan aspek non-verbal seperti bau, kondisi di dalam ruangan, pengaturan waktu, ekspresi wajah dan gerak tubuh. Oleh karena itu, transkriptor atau transcriber perlu fokus pada aspek-aspek tertentu dari komunikasi.

Untuk memenuhi standar kualitas penelitian kualitatif, peneliti dan transkriptor perlu sengaja mengatur fokus agar sesuai dengan tujuan dari penelitian yang dilakukan atau untuk tujuan penggunaan transkrip. Contoh: dalam suatu rekaman, peneliti menanyakan jika informan akan mengurangi jumlah karyawan tahun depan. Informan berpikir selama lima detik untuk berpikir, menggosok dagunya. Dia kemudian melihat ke bawah ke lantai, pelan-pelan menjawab “naaaaah”. Pernyataan ini secara sederhana dapat dituliskan “tidak”.

Dalam transkrip sederhana, elemen komunikasi paraverbal dan non-verbal dihilangkan. Contoh komunikasi paraverbal adalah nada bicara, penekanan, volume, dan jeda. Dialek dan bahasa sehari-hari mendekati bahasa standar. Fokus transkrip sederhana terletak pada pembacaan. Transkrip tipe ini lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan.

Sumber gambar: https://isabelfuster.es


  • 0

Perjalanan manajemen pengetahuan di organisasi

Banyak praktisi manajemen pengetahuan mengeksplorasi cara untuk ‘berbagi pengetahuan’ di seluruh organisasi. Praktisi mengakui kekuatan dan nilai teknologi ‘sebagai alat’ dalam proses berbagi pengetahuan tapi mereka penasaran dengan potensi kekuatan lainnya.  Salah satunya adalah peran memfasilitasi perubahan budaya.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah semua tahap dalam manajemen pengetahuan merupakan upaya untuk merangsang perubahan cara kerja, tidak tergoda melakukan kesalahan dengan menempatkan teknologi informasi sebagai pusat dari perubahan budaya. Beberapa hal yang perlu dijaga selama proses manajemen pengetahuan adalah
• kehilangan visi tentang alasan melakukan manajemen pengetahuan,
• tersesat pada berbagai fitur yang dianggap menarik dan keren,
• manajemen pengetahuan dianggap sebagai solusi tanpa masalah.

Dalam upaya mencapai kesuksesan, kadang perlu melalui berbagai kegagalan yang oleh manajemen dianggap “eksperimen mahal”. Manajemen pengetahuan perlu diterapkan dengan pengawalan anggaran yang ketat dan fokus pada tujuan utama yaitu meningkatkan adopsi prinsip berbagi pengetahuan di mana setiap anggota organisasi terlibat dalam perjalanan kemajuan organisasi.


  • 0

Tantangan kepemimpinan visioner

Salah satu kekuatan dari seorang pemimpin visioner adalah kemampuan mereka membangun staf pelaksana dari orang-orang terbaik di seluruh dunia. Dalam sebuah perusahaan hanya ada satu visi yang perlu dikedepankan yaitu visi si pemimpin. Seorang pemimpin mengarahkan visi dengan menempatkan para pelaksana (eksekutif) operasional yang memiliki kapasitas di setiap bidang – hardware, software, desain produk, rantai pasokan, manufaktur. Mereka adalah orang-orang yang dianggap mumpuni untuk menerjemahkan visi dan karakter pemimpin ke dalam rencana, proses, dan prosedur.
Ketika pendiri dan visioner keluar atau mengundurkan diri, para pelaksana operasional tersebut merasa bahwa sudah tiba giliran mereka untuk menjalankan perusahaan. Kadang juga dengan restu dari pemimpin sebelumnya.
Ketika menjadi pemimpin, HBR mengamati bahwa salah satu hal pertama yang dilakukan para pemimpin baru ini adalah menyingkirkan kekacauan dan turbulensi di dalam organisasi. Para pemimpin yang dulunya pelaksana sangat menginginkan stabilitas, proses, dan kegiatan berulang. Hal itu dapat meningkatkan prediktabilitas, tapi seringkali menjadi titik awal kematian kreatifitas. HBR mengamati bahwa biasanya orang-orang yang kreatif mulai undur diri, para pelaksana lain mulai memainkan peran yang lebih senior, dan mempekerjakan lebih banyak orang untuk operasional.

Pergeseran budaya ini diwariskan dari atas dan yang tadinya sebuah perusahaan dengan misi untuk mengubah dunia sekarang terasa seperti pekerjaan pada umumnya. Dilema ini dihadapi oleh berbagai perusahaan besar seperti Microsoft dan Apple. Kepergian seorang pemimpin inovatif melahirkan pertanyaan penting: Apakah Anda akan mencari inovator lain, mempromosikan salah satu pelaksana, atau mencari sosok inovator yang sudah ada di dalam organisasi?

Jika Anda mengalami dilema yang sama, ada baiknya melihat kembali proses di dalam perusahaan dan mengambil refleksi dari kasus perusahaan lain.

Disadur dari artikel HBR.com di https://hbr.org/2016/10/why-visionary-ceos-never-have-visionary-successors