Seni Mengedit

  • 0

Seni Mengedit

Menulis adalah keterampilan, bukan sains. Akan ada hari dimana semua yang kita tulis berakhir di tempat sampah, baik itu secara harfiah atau recycle bin di komputer. Akan (selalu) ada hari seorang penulis harus menyusun ulang setiap kata dan frase. Pada hari-hari lainnya, setiap kata yang ditulis atau diketik seakan karya besar yang tidak terlupakan.

Berkhayal selalu membantu seorang penulis untuk optimis. Semua tulisan terbaik harus melalui proses penyuntingan. Rahasia sukses bagi banyak penulis adalah revisi. Ini kegiatan yang melelahkan karena perlu menyunting sangat teliti, dan kadang perubahan total.

Kebanyakan draft pertama adalah sampah. Itulah sebabnya para penyunting menyebutnya sebagai “draft kasar.” Tugas penyunting adalah memoles dan “menyemir” draft kasar tadi berulang-ulang, sampai halus dan bersinar. Sinar dari karya tadi yang akan menarik pembaca untuk membaca dan membelinya.

Seorang penulis biasanya menulis ratusan ribu atau mungkin jutaan kata yang harus dibuang. Kemudian menulis ribuan kata lagi yang harus disunting dan ditulis ulang. Akan ada rasa marah, kecewa, dan lelah yang harus dilalui dengan cepat karena penulis berpacu dengan tenggat dan emosi yang sedang meninggi. Seorang penulis profesional biasanya terlatih menghadapi kritik dan penyuntingan. Penulis punya hak untuk protes dan bersikeras pada pendapatnya. Semua akan berakhir dengan kompromi.

Seorang penulis tidak pernah berhenti karena proses penyuntingan dan hal ini yang membedakan mereka dari “penulis” yang tidak pernah menyelesaikan apapun. Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk menulis dengan buruk, kemudian paksa diri untuk menyunting. Ya, kerja keras dan akan mengaduk emosi kembali, tapi dengan cara ini seorang penulis dapat menghasilkan draf akhir yang menonjol.

“You can always edit a bad page. You can’t edit a blank page.”

Sumber gambar: Sayquotable.com


  • 0

Contoh Padatan Faktual dari Transkrip Wawancara

Di bawah ini kami sajikan contoh padatan faktual dari transkrip wawancara. Transkrip yang panjang tidak otomatis menghasilkan padatan faktual yang banyak karena tergantung pada kemampuan peneliti untuk menggali substansi yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pertanyaan

Jawaban

Padatan faktual

Bagaimana proses dengan kedutaan? Bisa ceritakan mengenai proses pernikahan mbak?

Untuk di kedutaan–.

Di KUA bagaimana? KUA dulu terus kedutaan. Bisa diceritakan gak?

Kalau di KUA itu cuma minta surat–. Yang paling penting itu surat keterangan bahwa suami masih berstatus lajang. Itu aja. Dan itu mempunyai–, saya harus menunggu umayan lama tuh, 2 minggu. Saya harus ke kedutaan, kasih passport segala macamnya. Tunggu 2 minggu karna dicari, dicek status suami saya di (00:02:53), he eh lajang. Itu yang lama, itu aja.

Perlu waktu 2 minggu untuk mendapat surat keterangan lajang dari kedutaan sebagai syarat di KUA.

Apakah ada larangan atau resistensi dari keluarga ketika mbak memutuskan menikah dengan Warga Negara Asing?

Kalau dari keluarga saya gak ada, gak terlalu mempermasalahkan itu ya. Terus yang paling penting nih, suami saya adalah orang asing yang lahir dan besar di Indonesia. Jadi dia sudah menyatu dengan Indonesia, mulai dari selera makan, perilakunya tu Indonesia banget. Jadi mudah sekali gitu diterima di keluarga. Jadi sama sekali gak ada masalah ya.

Tidak ada resistensi dari keluarga terkait menikah dengan WNA

Oh oke, oke. Jadi diterima dengan baik karna suami menyesuaikan dirinya pun baik dengan keluarga ya.

Iya begitu.

Ada berapa kakak beradik di keluarga mbak?

Saya anak kedua dari lima bersaudara. Saya bertemu sama suami ketika masih bekerja. Mungkin itu juga ya karna saya juga mandiri jadi orang tua benar-benar gak ikut campur dalam hal ini. Intinya mreka melihat calon suami baik dan bisa masuk ke keluarga, itu saja yang paling penting. Nyambung sama keluarga.

Perempuan bekerja dianggap mandiri secara ekonomi sehingga keluarga tidak ikut campur dalam memutuskan pasangan hidup.

Sumber gambar : nccwsc.usgs.gov


  • 0

Menyentuh Hati melalui Tulisan

Menjadi seorang penulis profesional bukan pekerjaan mudah. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai perjalanan yang melelahkan, penuh konflik, dan kadang menemui beberapa hambatan yang dapat menggoyahkan impian menjadi penulis. Kadang lebih mudah untuk mengabaikan impian itu dan sekadar menulis untuk iseng, tanpa keinginan untuk menerbitkan tulisan, sehingga beberapa orang menyebutnya “pipe dream”, sebuah ceruk sempit yang hanya dilalui mereka dengan tekad kuat menjadi seorang penulis.

Tidak ada yang tidak mungkin. Peribahasa ini sudah dibuktikan oleh banyak orang yang berhasil menjadi penulis baik melalui penerbitan indie atau arus utama. Keberhasilan mereka harusnya menjadi pemicu bagi penulis lainya yang masih berjuang.

Apa resep kesuksesan penulis? Menurut beberapa penulis, intinya adalah menghasilkan suatu karya yang dapat menyentuh hati dan pikiran khalayak. Apapun genrenya, jika karya tersebut menyentuh dan menggugah emosi khalayak maka mereka akan merasa karya tersebut berharga untuk dibaca dan dibeli.

Seringkali yang diperlukan adalah sedikit motivasi yang dapat mendorong penulis di kala terjebak dalam “writer’s block” atau situasi sulit lainnya. Jadi, jika kamu juga sedang berjuang untuk mendapatkan pencerahan di tengah penulisan yang mandek, berhenti sejenak beberapa saat –bukan beberapa hari– untuk menulis secara spontan dan mengisi energi untuk melanjutkan proses menulis.

Semoga cara ini berhasil menuntunmu untuk terus menulis.

Sumber gambar: http://blog.wsd.net/mainglefield/the-writing-process/


  • 0

Tips Menulis – Hindari Pengulangan

Kata atau frasa yang muncul berulang dalam suatu tulisan dapat memicu “gema” di benak pembaca. “Gema” yang dimaksud adalah perasaan bawah sadar yang mengatakan, “Bukankah saya baru saja membacanya?”. Hal tersebut dapat menarik perhatian pembaca, baik secara positif maupun negatif, terhadap pesan yang ingin disampaikan penulis. Sangat sulit bagi seorang penulis untuk memilih kata-kata dan frasa yang perlu diulang dalam karya mereka sendiri untuk menekankan suatu pesan. Pengulangan yang dilakukan secara serampangan akan menimbulkan efek negatif terhadap suatu tulisan.

Jika suatu kata atau ungkapan yang digunakan berulang bukan kosakata yang umum, maka semakin besar kemungkinan untuk “menggema” di benak pembaca. Jika penulis menggunakan ungkapan tertentu, bahkan di halaman terpisah, maka hal tersebut dapat memicu “gema” di benak pembaca. Seorang editor yang baik akan menyoroti kata-kata dan ungkapan berulang yang ditemukan dalam suatu tulisan sehingga penulis dapat menggantinya dengan ungkapan yang berbeda.

Sumber gambar: www.linkedin.com


  • 0

Sekilas tentang Transkrip Terperinci

Di artikel sebelumnya telah dibahas tentang transkrip sederhana. Kali ini akan dibahas tentang transkrip terperinci dengan aturan yang lebih kompleks. Transkripsi jenis ini diperlukan jika analisis yang akan dilakukan terfokus tidak saja pada isi percakapan tetapi juga pada semantik. Dalam kasus tersebut, elemen seperti intonasi, volume suara  dan kecepatan  dan pitch suara disertakan dalam transkrip.

Seperti telah diketahui, transkrip sederhana memungkinkan peneliti untuk memahami isi percakapan dengan cepat. Detail mengenai intonasi dihilangkan sehingga transkrip mudah dibaca. Sementara di transkrip terperinci, pembaca mendapatkan informasi lebih baik tentang kesan para pembicara karena mencakup intonasi dan logat. Peneliti dapat menganalisis dan mengambil kesimpulan dengan lebih tepat ketika narasumber terdengar antusias karena dia berulang kali menekankan suatu suku kata.

Peneliti harus memutuskan bagaimana cara menuliskan ekspresi komunikasi dan informasi yang dia perlukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab peneliti misalnya, informasi apa yang harus dimasukkan di dalam transkrip?
Apakah penting untuk memasukkan penekanan?
Apakah vernakular atau dialek harus diwakili dalam transkrip?
Sebuah aturan transkripsi yang jelas akan membantu penyusunan transkrip yang dapat dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Sekali lagi, perlu ditekankan bahwa tujuan dari transkripsi adalah menuliskan ucapan secara rinci untuk memberikan pemahaman yang baik dari percakapan bagi pembaca. Hal ini dilakukan, misalnya, dengan memasukkan jeda, intonasi, atau pembicaraan tumpang tindih di transkrip. Namun terlalu banyak detail juga dapat mempersulit orang untuk memahami transkrip.


  • 0

Sekilas tentang Transkrip Sederhana

Siapapun yang mentranskripsi atau yang bekerja dengan transkrip perlu menyadari bahwa suatu transkrip tidak pernah bisa sepenuhnya merekam situasi dalam bentuk tertulis. Hal ini karena terlalu banyak elemen yang terjadi dalam proses komunikasi. Tidak mungkin untuk menuliskan semuanya. Bahkan transkrip yang memiliki kode pancatatan rinci yang menuliskan berbagai suara yang terdengar bukan berarti sangat akurat. Suatu transkrip dapat menghilangkan aspek non-verbal seperti bau, kondisi di dalam ruangan, pengaturan waktu, ekspresi wajah dan gerak tubuh. Oleh karena itu, transkriptor atau transcriber perlu fokus pada aspek-aspek tertentu dari komunikasi.

Untuk memenuhi standar kualitas penelitian kualitatif, peneliti dan transkriptor perlu sengaja mengatur fokus agar sesuai dengan tujuan dari penelitian yang dilakukan atau untuk tujuan penggunaan transkrip. Contoh: dalam suatu rekaman, peneliti menanyakan jika informan akan mengurangi jumlah karyawan tahun depan. Informan berpikir selama lima detik untuk berpikir, menggosok dagunya. Dia kemudian melihat ke bawah ke lantai, pelan-pelan menjawab “naaaaah”. Pernyataan ini secara sederhana dapat dituliskan “tidak”.

Dalam transkrip sederhana, elemen komunikasi paraverbal dan non-verbal dihilangkan. Contoh komunikasi paraverbal adalah nada bicara, penekanan, volume, dan jeda. Dialek dan bahasa sehari-hari mendekati bahasa standar. Fokus transkrip sederhana terletak pada pembacaan. Transkrip tipe ini lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan.

Sumber gambar: https://isabelfuster.es